_

Wednesday, August 3, 2011

The Water Castle, Taman Sari

Rasanya belum lengkap bila mengunjungi Keraton Yogyakarta tanpa mengunjungi Taman Sari yang letaknya berdekatan dengan keraton. Taman Sari merupakan tempat atau pesangrahan (semacam villa) yang digunakan Sultan dan keluarganya sebagai tempat peristirahatan dan pemandian pada jaman dahulu. Konon, pada jaman dahulu kompleks Taman Sari ini adalah tempat yang sangat indah yang dikelilingi oleh air dan sungai yang berhubungan langsung dengan laut selatan. Taman Sari ini dibangun oleh seorang arsitek berkebangsaan Eropa, maka tak heran jika gaya bangunan ini memiliki ciri khas arsitektur Eropa yang sudah dipadu padankan dengan gaya islam Jawa. Ketika pengunjung masuk ke dalam kawasan Taman Sari, di dalam kawasan ini terdapat tiga kolam pemandian yang indah yang biasa dipakai raja dan keluarganya, dua diantaranya terletak ditengah-tengah dan yang satunya lagi terletak terpisah sebagai privasi untuk raja dengan selir-selirnya. Selain kolam pemandian, di kawasan Taman Sari juga terdapat masjid bawah tanah yang sangat unik gaya bangunannya, dimana dibagian tengah masjid itu terdapat lima anak tangga yang saling berhubungan sebagai lambang 5 Rukun Islam. Disebelah masjid bawah tanah ini terdapat jalan menuju keatas dimana disana terdapat sebuah istana yang merupakan tempat raja dan keluarganya bersantap makan. Sayangnya bangunan istana ini sempat hancur pada saat Jogja mengalami musibah gempa, namun saat ini istana ini sedang mengalami masa pemugaran.

Biaya masuk ke Taman Sari ini memiliki tarif Rp3.000,- /orang dengan tambahan Rp1.000,- jika membawa kamera. Saya sangat menyarankan untuk memakai jasa guide bila berkunjung ke Taman Sari, karena sang guide tersebut akan menjelaskan secara detail dan menunjukan arah-arah jalan yang harus dilewati yang belum tentu pengunjung yang baru pertama kali datang dapat mengerti arah-arahnya. Biaya yang dikeluarkan untuk jasa guide tersebut tidak lah dipatok harus bayar berapa, saya dan Wahyu sepakat mengeluarkan Rp25.000,- untuk jasa guide yang sudah menemani dan menjelaskan kepada kami tentang Taman Sari ini. Untuk transportasinya, kami masih memakai jasa tukang becak yang sebelumnya mengantar kami ke Keraton. Tukang becak disana banyak yang bersedia mengantar dan menunggu pengunjung ke beberapa kawasan dengan harga yang relatif dan sebaiknya melakukan tawar menawar terlebih dahulu. Sayang sekali Taman Sari yang sekarang tidak seindah gambaran mengenai Taman Sari pada jaman dahulu, karena saat ini sudah begitu banyaknya bangunan penduduk disekitar kawasan itu serta beberapa bangunan yang sudah rusak dimakan waktu.

Sunday, July 31, 2011

Welcome back, The Holy Ramadhan.. :)


Ramadhan...
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, 
Tidur kita menjadi ibadah, 
Amal kita diterima dan do’a kita di ijabah..
Alhamdulillah kita semua masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah ini, semoga segala amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Saturday, July 30, 2011

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows part 2

Harry Potter and the Deathly Hallows part 2
Genre: Adaptation, Adventure, Fantasy
Starring: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Alan Rickman, etc.
Director: David Yates
Producer: David Heyman, David Barron, J.K. Rowling
Distributor: Warner Bros. Pictures
My Thought:
Sedih sekali melihat serial ini harus berakhir sampai disini. Siapa yang menyangka, terhitung sejak 10 taun yang lalu saat film pertamanya dirilis dan berhasil bertahan sampai film ke 7 (bagian 2) nya yang sukses secara komersil maupun kualitas dan mendapat berbagai pujian kritikus. Saya sangat yakin sekali, dimasa yang akan datang, serial Harry Potter ini akan menjadi legenda tersendiri layaknya The Godfather Trilogy, Starwars Series, James Bond Series dan Lord of the Ring Trilogy. Tumbuh dengan serial ini sejak saya berusia 11 tahun dan sampai sekarang saya berusia 21 tahun, film dan novel ini benar-benar membawa pengaruh dan inspirasi bagi hidup saya. Film ini memberikan pelajaran pada banyak hal, yaitu keberanian, kesabaran, persahabatan, keluarga, dan sebagainya.
Seperti review saya pada film Harry Potter and the Deathly Hallow part 1, kali ini Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 benar-benar diluar ekspektasi saya, sangat bagus, mengharukan dan puas sekali rasanya. Film ini tetap setia pada novelnya sehingga seluruh imajinasi yang tertulis di novel benar-benar sama persis pada film ini. Film ini benar-benar mampu mendeskripsikan novelnya secara utuh. Sungguh ending yang sangat pas, ini lah film terbagus sekaligus tersedih diantara film-film sebelumnya. Saya tidak perlu membicarakan tentang sinopsisnya, karena saya yakin banyak orang yang sudah membaca novelnya. Dan bagi yang belum membacanya biarkan lah mereka menonton dan menyaksikannya sendiri. Menurut saya, film ini benar-benar ending yang sangat pas. Dengan pujian luar biasa saya layangkan kepada composer scoring music nya yang mampu membuat suasana menjadi sangat menegangkan dan mengharukan, sangat menyatu dengan seluruh adegan film, terlebih lagi pada saat "jingle" Harry Potter yang sangat fenomenal itu diputar.
Ini lah satu-satunya film Harry Potter yang mampu membuat saya menangis. Dan semua pecinta Harry Potter sebagian besar pasti menangis saat menonton film ini. Ada banyak hal alasan mengapa film ini sampai mampu mengeluakan air mata penonton, yaitu saat kematian orang-orang terdekat Harry, kenangan Snape yang tersimpan pada Pensive Dumbledore, keberanian Harry untuk menyerahkan diri pada Voldemort, dan satu lagi alasan utama mengapa penonton sedih adalah karena film ini merupakan film yang terakhir. Tidak ada lagi film-film Harry Potter selanjutnya. Tidak ada lagi tiap tahunnya kelanjutan film yang sangat ditunggu-tungu ini. Sudah selesai. "It All Ends."
Film ini mengajarkan saya tentang bagaimana mengahadapi keyataan, baik kenyataan yang menyenangkan maupun yang pahit sekalipun. Jika pada film pertamanya toning pada film tersebut adalah gembira, suka cita dan exciting. Mulai pada film keempat dihadapkan pada rasa kehilangan, kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, dan sebagainya yang musti diterima oleh Harry dan kawan-kawan. Seperti kalimat yang selalu diajarkan, "Dibalik kesusahan terdapat kemudahan.". 
Dan kisah persahabatan yang terdapat di film ini terasa begitu indah. Film ini juga mengajarkan saya untuk memilih teman yang hatinya baik. Ingatkah kalian pada saat film pertama ketika Harry baru pertama kali masuk Hogwarts dan Draco Malfoy menawari untuk berteman dan menyuruh Harry mencampakan Ron Weasly ditangga pintu masuk? Dengan kebaikan hatinya, Harry menampik tawaran tersebut dan tetap memilih berteman dengan Ron Weasly, si bodoh yang miskin. Dan juga pada saat Hermione dijauhi murid-murid karena sok pintar (padahal memang pintar) dan karena termasuk darah campuran, Harry tetap mau berteman dengannya. Dan ternyata kedua orang tersebut (Ron dan Hermione) menjelma menjadi dua sahabat yang sangat setia menemani dari awal sampai akhir. Bagaimana jika Harry waktu itu menerima tawaran Malfoy dan menjadi bersahabat dengannya, saya sangat yakin tidak akan ada kisah persahabatan yang sangat indah kalau hal ini terjadi. 
Rasanya benar-benar sedih harus berpisah dengan serial ini.... :'(

Friday, July 29, 2011

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Belum lengkap rasanya ke Yogyakarta tanpa mengunjungi Keraton Yogyakarta. Ya, karena Keraton merupakan istana resmi tempat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Maka saya pun tak lupa mengajak Wahyu untuk berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Perlu diketahui bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, Jogja merupakan daerah kerajaan dengan pemimpin tertinggi yang berada di tangan sultan. Seperti layaknya kerajaan-kerajaan lain yang berada di Eropa, kerajaan atau kesultanan Yogyakarta ini sangat lah diagung-agungkan oleh masyrakat Jogja, bahkan sampai ke jajaran keluarga besar sultan dan keturunannya. Walaupun Yogyakarta sudah resmi bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950 dimana letak pemimpin tertinggi adalah presiden, tetapi kesultanan ini tidak dihilangkan begitu saja dan tetap menjadi bagian Yogyakarta. Maka, secara otomatis Sultan Yogyakarta merangkap posisi sebagai pemimpin tertinggi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau kalau didaerah-daerah lain disebut gubernur.

Yogyakarta memiliki adat istiadat yang sangat kental, terlebih lagi Keraton yang memiliki tradisi yang sampai saat ini masih dijalankan. Maka dari itu, Keraton Yogyakarta menjadi salah satu obyek pariwisata utama yang terdapat di Jogja yang menarik minat pengunjung dan wisatawan karena berbagai tradisi dan kebudayaannya. Istana ini dibangun pertama kali pada tahun 1755 oleh pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Sultan Hamengkubuwono I yang sekaligus merangkap sebagai kepala arsitek. Dan kemudian dipugar dan direstorasi kembali oleh Sultan Hamengkubuwono VIII (1921-1939) menjadi keraton yang tampak seperti sekarang ini. Keraton Yogyakarta memiliki halaman yang sangat luas yang terdiri dari tujuh komlpeks inti dimana salah satunya merupakan tempa tinggal resmi sultan dan keluarganya. Dan sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai macam benda bersejarah dan hadiah-hadian pemberian dari berbagai kerajaan di Eropa. Biasanya tiap hari sabtu da minggu terdapat pertunjukan tari dan gamelan di salah satu aula yang ada di dalam keraton. Transportasi umum yang tersedia untuk menuju keraton sangatlah mudah, didaerah Malioboro dan Pasar Kembang terdapat banyak becak yang bersedia mengantar dan menunggu pengunjung masuk ke dalam keraton dengan harga yang relatif dan bisa melakukan tawar menawar. Untuk biaya masuk keraton, pengunjung dikenakan tarif Rp5.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp10.000,- untuk wisatawan asing.
 
Theme by BloggerThemes & Dfreebies
This template is brought to you by : allblogtools.com | Blogger Templates